Rumah Subsidi Terdekat Dari Domisilimu Saat Ini

rumah subsidi terdekat
Sedang Mencari Rumah Subsidi Terdekat Dari Tempat Tinggalmu?

Apakah Saat Ini Kamu Sedang Tinggal Atau Merantau Di IbuKota Jakarta?, Dan sedang mencari rumah subsidi terdekat dari tempat tinggal atau kerjamu saat ini, Seiring berjalannya waktu mungkin kamu merasa bosan dan jenuh juga kalau harus bayar kontrakan tiap bulan, Apalagi saat kamu mendengar program KPR Subsidi dari pemerintah.

Rasanya seperti sayang juga kalau harus bayar kontrakan tiap bulan, sementara ketika melihat cicilan rumah subsidi, seperti berbeda sedikit dengan biaya kontrakan bulananmu, Bagaimanapun pikiranmu mungkin mulai sedikit terbuka.

Bayar kontrakan tiap bulan rasanya hilang begitu saja dan ngga ada bentuknya, sedangkan kalau kita agak “memaksakan” diri kita untuk mencicil rumah, suatu saat bakal ada bentuknya, dan setidaknya akan bernilai investasi suatu saat nanti, bukankah kita sering mendengar bahwa membeli rumah atau properti merupakan salah satu aset investasi terbaik hingga saat ini.

Pada prinsipnya harga jual rumah subsidi itu sudah ada plafon maksimum atau harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Jadi harga jual pasti sama, Permasalahannya, tidak semua lokasi harga tanah yang merupakan modal awal developer itu harganya sama. Jadi kuncinya ada di harga tanah Di suatu lokasi atau daerah.

Lokasi yang penduduknya lebih padat tentu saja harga lahannya lebih mahal dibanding lokasi yang aksesnya lebih jauh atau terbatas atau bahkan beresiko banjir. Nah untuk mengejar perbedaan selisih harga lahan itu, mau tidak mau ya developer putar otak supaya nilai jual rumah tetap masuk plafon Harga Jual Rumah subsidi.

Salah satunya ya mencari lokasi dengan harga jual tanahnya masuk di ambang batas untuk di bangun rumah subsidi, mengingat kenaikan harga lahan yang luar biasa cepatnya. Jadi memang tidak bisa disama ratakan harga lahan antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.

Faktor lainnya tentu saja dari kualitas dan fasilitas yang disediakan oleh developer. Sbg contoh misalnya perumahan itu membangun RTH lengkap dengan sarana bermain. Itu butuh biaya yang salah satunya dibebankan ke komponen DP.

Well saya ngga menafikkan kalau rata2 rumah subsidi memang jauh, terutama bagi kamu yang tinggal di Daerah khusus ibukota Jakarta, biar gimana juga developer properti itu bukan lembaga sosial yang membangun rumah cuma-cuma untuk masyarakat Berbudget pas-pasan berjiwa sosialita, untuk mengejar profit margin, cuan atau keuntungan, mau ngga mau mereka memang harus mencari tanah di pinggir kota yang harganya relatif murah, agar batas harga jual yang sudah di tetapkan oleh pemerintah bisa di realisasikan oleh mereka,

Jadi buat kamu yang mencari rumah subsidi terdekat dari domisili atau tempat kerjamu saat ini, harus legowo kalau rata-rata lokasinya akan cukup jauh dari tempatmu saat ini khususnya bagi kamu yang saat ini tinggal di kota-kota besar khususnya Jakarta.

Bangun rumah subsidi itu ngga seperti developer rumah non subsidi yang bisa netapin harga seenak udel mereka, harga rumah subsidi sudah di tetapin sama pemerintah, kamu perhatiin aja semua harga rumah subsidi di pinggiran “mamah kota Jakarta”, pasti harganya sama semua dan saya jamin lokasinya juga sama jauhnya mau itu di barat, timur atau selatannya, jangan tanya di utara ya karena nanti kamu malah nyemplung di laut lepas, yang bedain paling cuma kualitas bangunan dan uang muka yang harus kamu bayar itu aja.

Setelah mendapatkan harga tanah yang sudah sesuai target mereka, ngga ujug2 mereka bisa membangun rumah subsidi, ingat ini bukan cerita Legenda Roro Jonggrang yang bisa bangun candi prambanan hanya dalam waktu semalam, tidak semudah itu fergussoo, developer wajib mengurusi segala macam perizinan hingga mereka bisa membangun rumahnya, yang sampai artikel ini ditulis perizinan yang harus di urus developer seenggaknya ada 12 tahap, mulai dari izin lingkungan, imb, izin prinsip, tata ruang, pemakaman dan lain2, yang kalo saya tulis di sini bisa sepanjang skenario “tukang bubur naik haji” nanti.

Seringkali saya mendengar omongan sinis dari mereka yang ngga terjun langsung di industri ini, berkata : “gileee gimana ngga cuan banyak jadi developer properti” beli tanah berapa, modal bangun rumah berapa, di jual berapa” rasanya saya ingin mentung ndengernya, karena realitanya ngga semudah itu juga, seperti yang sudah di tulis di atas tadi, bahwa setelah membeli tanah ada 12 izin yang harus di urus, dan yang namanya ngurus perizinan ya ngga jauh2 juga dengan yang namanya birokrasi,

Meski katanya pengurusan birokrasi di era ini katanya gratis, tapi itu ya hanya sebatas Retorika atau ucapan saja, karena realitanya rasanya ngga usah di pertanyakan lagi gimana ribetnya kita mengurus birokrasi di negeri ini, dari yang paling simple aja kaya sehari-hari kamu ngurus ktp, dukcapil, surat nikah atau apapun itu. kamu masih mengurusnya dengan gratis? atau harus ada “sesuatu” agar prosesnya lebih cepat?

Perizinan atau birokrasi sebenarnya mengambil “porsi terbesar” dalam komponen modal seorang developer ketika mereka memutuskan membangun sebuah properti, ngga seperti komponen lainnya misalnya harga tanah atau biaya bahan bangunan, yang dengan mudah di prediksi dan di estimasi,

Ibarat kata kalo kamu nyari semen di satu toko bahan bangunan, kalo harganya ngga masuk kamu tinggal ganti merk atau cari toko bahan bangunan lainnya yang menjual dengan harga yang pantas, kalo birokrasi mana bisa di tawar, kaya ibu2 nawar cabe atau bawang di pasar.

Sekarang bisa kamu bayangkan bukan apabila kamu seorang developer properti lalu ujug2 datang ke sebuah instansi untuk meminta izin sambil bilang : ” pak saya mau ngurus izin” tentu ngga sesimple as that, tentu ada deal2 khusus agar instansi tersebut bisa mengeluarkan izin untuk proyekmu, dengan lancar sentosa dan jaya semulus jalan tol,apalagi kalau mereka tahu kalau ini bisnis, dengan wajah tersenyum ketus aslinya mereka sudah teriak dalam hati : “cuan,,,,cuan,,,,cuan,,,,” celakanya itu baru 1 pintu guysss inget lagi tulisan di atas, bahwa ada 12 perizinan yang harus kamu urus,

Dengan santainya bisa jadi pejabat di instansi berwenang yang izinnya kamu urus cuma bilang : “Mau ayo ngga mau ya udah, biar proyekmu ngga jalan” kalo sudah gitu mau gimana? mau mundur? Kaya buah simalakama kan? sementara tanah yang kamu beli udah di bayar, ngga malu sama caption foto di sosmed yang kemarin kamu posting baru foto lahan aja kamu udah bilang : “bismilah, semoga lancar”

Puyeng2 dah tu pala wkwkwkwk, padahal baru mulai, jalan aja blum, laku aja ngga, di bangun apa lagi. cuannya aja belum kelihatan, udah banyak yang harus di keluarin, buat ngurus segala macam, mangkanya kalo kamu berpikir jadi developer properti itu untungnya banyak, saya cuma mau bilang : wake up man!!!! bukannya semua usaha memang gitu? lebih enak, lebih indah di lihat dan di dengar ceritanya daripada di jalanin?

Jadi buat kamu yang sedang mencari rumah subsidi terdekat, harus ikhlas kalau lokasinya rata-rata mungkin cukup jauh dari tempat tinggalmu saat ini, Tapi tolong di pahami juga suka ngga suka sebenarnya meskipun jauh, Menunda mengambil rumah bukan pilihan yang bijak, karena bisa jadi semakin kamu menunda maka bisa jadi kamu malah mendapatkan lokasi rumah subsidi yang semakin jauh.

Sebab tanah ngga ada pabriknya, ngga perlu khawatir sebenarnya meskipun saat ini kamu ambil rumah subsidi yang lokasinya jauh, karena infrastruktur di lokasi yang penduduknya semakin padat akan semakin baik, bisa jadi saat kamu ambil rumah di lokasi yang tidak kamu inginkan saat ini, suatu saat nanti lokasi itu akan di inginkan oleh orang-orang suatu saat nanti.

Dan saat itu “Mungkin” (kalau sudah ambil rumah murah loh ya) kamu bisa tersenyum bahagia karena merasa beruntung dulu kamu bisa memilikinya dengan harga murah, dan berkata dalam hati pada orang-orang itu : ” Dulu kemana aja pak bu waktu harga rumahnya masih murah? kebanyakan mikir sih, sekarang dapatnya makin lama makin ke pinggir kan” 😃😃😃

Facebook Comments Box

Leave a Reply